Mengenal Masjid Jogokariyan, Masjid yang Kasnya Selalu Nol Rupiah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Sekilas tak ada yang aneh dengan masjid Jogokariyan yang ada di kota Yogyakarta ini. Namun belakangan masjid ini viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Kenapa gerangan? Usut punya usut, ternyata masjid Jogokariyan memang lain dari yang lain.

Dari segi bangunan tidak ada yang istimewa, masjid Jogokariyan dibangun di tanah wakaf seluas 700 meter persegi setinggi 3 lantai. Masjid ini juga tidak tergolong masjid jami’ yang besar, melainkan hanya masjid kampung biasa. Namun banyak sekali sisi istimewa dari masjid yang satu ini.

Bila dalam setiap pengumuman saldo kas masjid nominalnya bisa sampai ratusan juta, masjid Jogokariyan berbeda, pasalnya kas masjid ini selalu NOL rupiah! Bagaimana bisa? Apakah masjid ini menolak sumbangan atau tidak menyediakan kotak amal? Ternyata bukan itu alasannya. Infak dan shodaqoh dari jamaah tetap diterima, hanya saja semua uang amal itu harus dihabiskan dalam kegiatan sosial. Saldo kas masjid wajib nol rupiah!

LKM masjid ini mengungkapkan bahwa infak yang berbuah pahala dan menjadi amal shalih haruslah disalurkan pada kegiatan sosial yang memberi banyak manfaat untuk semua orang, bukan sekedar disimpan di rekening bank. Apalagi di sekitar masjid yang memiliki saldo kas ratusan juta seringkali ada banyak orang yang tidak mampu dan membutuhkan uluran tangan.

Masjid Jogokariyan

Warga sekitar dan jamaah masjid Jogokariyan ‘dimanjakan’ dengan berbagai fasilitas gratis, mulai dari WiFi gratis, ruang olahraga untuk anak-anak dan orang dewasa, serta hidangan buka puasa sebanyak 5.000 piring setiap harinya. Tak berhenti sampai situ, masjid Jogokariyan juga menyediakan Kartu Sehat Masjid yang bisa dimanfaatkan warga kurang mampu untuk berobat ke rumah sakit maupun klinik di Jogjakarta.

Takmir masjid Jogokariyan bekerja keras untuk mendata warga di sekitarnya. Mereka memetakan agama warga, tingkat ketaatan warga Muslim dalam beribadah, jumlah warga yang kurang mampu, dan sebagainya. Takmir ingin mendorong warga untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan cara yang menyenangkan. Takmir bahkan tidak boleh memarahi anak-anak yang ramai, namun malah memberikan hadiah berupa snack pada anak yang berperilaku baik di masjid.

Untuk warga atau siapapun yang belum bisa sholat, takmir dengan sabar akan mengajarinya sampai bisa. Untuk warga yang sudah sholat tapi jarang menunaikannya secara berjamaah di masjid, takmir akan mengirim undangan dan menyediakan makanan di masjid. Masjid ini terbuka selama 24 jam, dilengkapi fasilitas WiFi gratis.

Pengelolaan kas masjid memiliki target unik, yaitu 0 (nol) rupiah. Takmir tidak mendapatkan gaji sepeser pun karena semuanya bekerja ikhlas demi ridha Allah dan kemaslahatan umat. Anak-anak dididik mengaji di TPA. Ada divisi usaha penyewaan kamar penginapan di lantai tiga masjid, yang pendapatannya digunakan untuk menggaji para petugas kebersihan sekaligus tambahan dana operasional.

Pengelolaan masjid yang unik ini benar-benar mengundang banyak decak kagum. Sudah seyogyanya semua masjid dikelola dengan cara demikian, tidak berlomba-lomba mempercantik bangunan dan menimbun kas masjid sementara banyak orang di sekitar yang membutuhkan bantuan dan bimbingan. Ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad agar menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah, namun juga sebagai tempat pendidikan, penggerak ekonomi, dan pengayom masyarakat.

Semoga semakin banyak masjid-masjid di Indonesia yang meniru pola pengelolaan masjid Jogokariyan ini agar semakin banyak orang yang bisa merasakan manfaat besar dari sebuah masjid.

Masjid Anda sudah di lengkapi gorden atau hijab pembatas jamaah laki perempuan? Atau mau ganti gorden? Bikin aja di Solusiruma.com .”Ada Harga, Ada Rupa”. Solusiruma.com pilihan tepat!

Salam,
Saya Abella,
Siap membantu Anda diskusi/order keranda
Powered by